30 Maret 2011

Dimensi Aneh

Pernah merasa punya kepribadian ganda? Atau merasa punya kelainan yang kadang membuatmu merasa aneh sendiri? Kalau pernah berarti bukan cuma aku saja yang merasakan hal yang sama. Dalam menjalani hidup kita pernah bahkan mungkin sering mengalami kejadian yang sepertinya sudah pernah kita alami padahal itu belum pernah terjadi sama sekali. Tapi aku tak akan membahas apa yang terjadi pada orang lain, aku akan bicara tentang apa yang sering aku rasakan.

Di saat aku sedang sendiri tak ada siapapun di rumah, aku sering melihat ke setiap sudut ruangan dan menerka-nerka apa yang ada di sana yang tak nampak di mata tapi terasa keberadaannya. Mungkin benar tak ada apa-apa disana tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang menarik di sudut itu, kamu tahu kenapa? Karena aku merasa di sudut itu ada satu ruang yang tanpa sadar bisa membuatku tersenyum. Di sudut itu aku merasakan kehadiran dirimu. Aku bebas melihatmu dalam berbagai bentuk terserah bagaimana imajinasiku bermain. Kadang kamu terlihat lucu, menggemaskan, sering menggoda tawaku tapi kadang kau terlihat murung merasa kesepian dan sedih tak berkawan. Ekspresi wajahmu yang selalu berubah membuatku merasa berada dalam dimensi yang sama denganmu. Tapi sekali lagi itu hanya imajinasi saja. Imajinasi seorang sahabat yang jauh entah dimana, pernah ingatkah dia wajahku atau meski hanya sekilas ingatkah dia namaku?.

Sering tanpa sadar aku terbawa imajinasi seperti itu dan setelah semua berlalu aku baru berpikir normalkah yang terjadi padaku. Untuk apa aku melakukan itu semua padahal banyak realita yang lebih nyata terjadi di depan mata. Tapi bukankah hidup itu pilihan, jadi kita bebas menentukan apa yang ingin kita pikirkan karena tak ada seorang pun yang berhak mencegahnya. Keadaan seperti itu sering membuatku merasa aneh sendiri apalagi kalau yang pernah terlintas dalam pikiran suatu hari kelak benar-benar jadi kenyataan. Benar kata orang apa yang kau pikirkan maka itulah yang akan terjadi padamu kelak. Dunia pikiran manusia memang aneh, tak bisa di tebak dan sulit di kendalikan.

Dan yang jadi pertanyaan mengapa selalu kamu yang ada di sudut itu? Ya kamu, hadir dalam wujud dan rupa yang selalu berbeda. Mungkinkah itu salah satu pengaruh ilusi dari ketidakjelasan dan kesamaran seperti apa kamu sebenarnya? Walaupun aneh tapi aku senang karena paling tidak keberadaanmu bisa aku tafsirkan sesuai dengan pikiranku tak peduli senormal atau se-ubnormal apa kamu di dunia nyatamu sana. Sebenarnya bukan cuma kamu saja tapi masih ada dia dan mereka yang saling bergantian muncul di depanku. Malah kadang-kadang aku sering berimajinasi kalian semua tiba-tiba muncul dan berada dalam ruangan itu secara bersama-sama membuat kerusuhan yang seperti biasa kita lakukan di ruang tertutup dalam dimensi yang lain. Gila ya segitu parahnya kah pikiranku jika menggambarkan tentang kamu dia dan mereka. Tapi terus terang saja justru kegilaan dan keanehan seperti itu yang menjadi teman setiaku di saat aku gak tahu harus berbuat apa. Kadang aku jenuh dengan realita yang ada jadi tak ada salahnya kan kalau aku membuat sendiri duniaku yang tak kasat mata oleh orang lain.

Makin berpikir aku aneh ya? Biar saja karena kenyataannya kadang aku malah ingin di anggap seperti itu, jadi kalau rasa jenuhku datang lagi dengan mudah aku bisa mengaktifkan lagi dunia dimensi ke dua itu. Suka atau tidak suka tiap orang akan berpikir berbeda tentang keanehan pribadi orang lain. Ada yang menganggapnya biasa, sebatas aneh saja dan pasti ada yang berpikir kalau orang yang mengalami hal sepertiku itu pasti sudah gila. Terserah pendapat orang, yang berpendapat hanya bisa sebatas bicara tapi tak pernah merasakan sensasi di balik keanehan itu semua. Jangan pernah menganggap orang lain aneh karena bisa saja kamu jauh lebih aneh dari orang yang kamu anggap aneh, jadi jangan heran dengan orang aneh!! ANEH KAN!!

"Untuk para sahabatku yang ANEH jangan pernah merasa minder dengan KEANEHAN itu karena hanya orang ANEH saja yang tak bisa menerima kehadiran orang ANEH di sekitarnya, jadi TETAPLAH JADI ORANG ANEH meskipun itu hanya untuk dirimu sendiri karena tanpa merasa ANEH kamu tak akan merasakan jadi orang normal yang mengerti KEANEHAN"



28 Maret 2011

Terima kasih sahabat....

Kehilangan atau melepaskan sesuatu yang kita sayangi memang sangat menyakitkan. Meskipun tak ingin tapi demi sebuah pilihan komitmen, aku harus bisa merelakan semuanya. Aku tak ingin menyesali dengan apa yang sudah aku putuskan. Aku juga tak menyesali karena melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan kehendak hati. Tapi apakah dengan mempertahankan itu aku bisa bertahan di dua sisi yang bertentangan? tidak, karena itu harus ada yang jadi prioritas dalam jalan hidupku ke depan. Kadang keadaan memang membawa kita ke dalam posisi yang tidak menguntungkan dan menjadi dilema. Tapi keyakinanlah yang akhirnya menuntut kita kepada satu alasan mengapa kita harus mengambil keputusan yang tepat dan terbaik meski mungkin itu belum tentu baik untuk kita sendiri tapi setidaknya baik untuk lainnya.

Maaf sahabat jika aku akhirnya memilih jalan ini. Tak ada maksud menghilang dari kalian tapi keadaan saat ini yang memaksaku melakukan itu. Aku tak harus menjelaskan apapun pada kalian karena memang tak perlu ada penjeslasan apapun untuk hal ini. Aku tak sekuat yang kalian kira selama ini. Aku tak setangguh seperti yang kalian pikirkan. Aku tetaplah hanya seorang manusia kecil dan lemah yang memiliki keterbatasan ruang lingkup dalam sebuah lingkungan kehidupan. Aku dan kalian memang banyak kesamaan dalam beberapa hal tapi kita juga memiliki perbedaan dalam banyak hal.

Banyak yang sudah kita lewati dua tahun belakangan ini. Aku bahagia mengenal kalian meski tak sepenuhnya. Kita telah melewati suka duka bersama, berbagi apa yang bisa kita bagikan. Berat rasanya saat aku harus memilih kalian yang mesti terpinggirkan. Tapi seperti yang pernah kita bilang beberapa kali, meski kita tak bersama tapi kita akan terus selalu berusaha ada untuk sesama. Menyakitkan bila ingat semua itu tapi sekali lagi dalam hidup kita memang harus punya pilihan. Aku tak akan mengucapkan selamat tinggal, aku hanya menjaga agar hubungan kita tak hilang begitu saja. Aku akan ada untuk kalian kapanpun kalian butuh aku, meskipun mungkin aku tak selalu ada di pikiran kalian. Aku hanya ingin persahabatan yang kita jalani selama ini tak benar-benar hilang selamanya. Aku tak mau jika kenangan manis kita selama ini hilang begitu saja hanya karena keputusanku ini. Seandainya kalian tahu bagaimana aku saat ini tanpa kalian...

Dengar sahabat...
Aku tetaplah aku, yang seperti kelingking tak bisa menggenggam sesuatu tanpa jari-jari lain yaitu kalian.
Aku tetaplah kau, yang tak mungkin menertawakan lelucon yang ku buat untuk kalian yang kalian sendiri tak pernah mendengarnya.
Aku tetaplah aku, seseorang yang tak mengerti apapun tapi bisa memahami sesuatu saat mengenal sahabat seperti kalian.
Aku tetaplah aku, yang tetap merasa sepi di saat kalian menghilang & mengudara bersama-sama tanpa aku disana.
Aku tetaplah aku... Yang sampai kapanpun ingin tetap menjadi sahabat yang tak lekang oleh waktu

Maaf sahabat atas semua yang sudah ku lakukan selama ini. Maaf karena terlalu sering mengganggu waktu kalian, mengerjai kalian dengan hal yang konyol dan mungkin secara tak sadar menyakiti kalian oleh semua kelakuan dan ucapanku selama ini. Aku tak pernah bermaksud tak baik, aku hanya ingin berbagi tawa...

Maaf untuk semua kebodohan & kekonyolanku yang menyinggung kalian dan terima kasih sudah menjadi bagian terindah dari separuh perjalanan hidupku selama ini...
  

21 Maret 2011

Rasa tak teraba

Aku terdiam tak berucap
Aku menunduk tak berdaya menatap apa yang tak nampak dimata
Aku sakit merasakan apa yang tak nyata terjadi
Aku jatuh di saat aku masih berdiri tegak

Sebesar itukah salahku
Sedalam itukah dosa yang ku lakukan
Sebenci itukah rasa yang hadir di hati
Hingga mendengarpun sudah tak sudi

Apa sebenarnya yang terjadi padamu
Kau inginkan semua orang menurutimu
Tapi tak kau pahami apa keinginan orang lain
Kau melingkari apa yang tak seharusnya terbatasi

Cobalah sekali saja bercermin pada mata hatimu sendiri
Sesuci apakah pikiran dan hatimu
Sebersih apakah pandanganmu
Sejernih apakah setiap ucapan yang keluar dari mulutmu

Jika air memang di takdirkan mengalir melalui arusnya
Mengapa kau coba menghentikannya dengan cara tak santun
Jika udara hadir tanpa diminta
Mengapa kau minta dia pergi meninggalkan kehidupannya

Mungkin aku salah
Mungkin aku keliru
Dan mungkin juga aku tak mengerti
Tapi tunjukkanlah jika kau mengetahui hal baiknya

Sudah terlalu lelah aku coba mengerti yang tak ku pahami
Melangkah pada jalan yang jauh dari tujuanku
Tak bisa lagi ku berontak pada hati ini
Maafkan aku yang tak pernah suci di hadapanmu