Aku berdiri menatap langit
Tak pernah terbayangkan sedari dulu
Jika semburat lembayung elokan mata
Seindah itukah pelangi di ujung senja
Aku berdiri menatap langit
Terbayang senyum yang ku rindukan
Gugusan bintang tak bisa mengalihkan
Lengkungan indah di wajahmu pesona
Aku berdiri menatap langit
Cahaya samar purnama memayungiku
Menyampaikan salam dari yang kurindu
Sedangkan aku hanya diam termangu
Aku berdiri menatap langit
Semilir angin menghunus tulangku
Membekukan tiap aliran darahku
Dimanakah engkau sang penghangat jiwaku
Aku berdiri menatap langit
Perih hati mengulum retina mataku
Menyongsong rindu yang tak terperi padamu
Menanti surga peneduh jiwa yang membeku
25 Januari 2011
24 Januari 2011
Blog ku, tulisanku separuh diriku....
Sejak awal aku membuat blog ini memang sengaja tak memuat tulisan untuk di edarkan ke publik. Blog ini hanya media untuk melampiaskan apa yang ada di hati ku untuk tersampaikan pada otakku kemudian di transfer ke dalam tulisan melalui sepuluh jari tanganku. Aku tak ingin memuat sebuah info yang aku sendiri gak yakin dengan keakuratan info itu. Lebih baik kau menulis apa yang aku tahu dan aku rasakan sendiri, karena dengan begitu tak akan ada pihak yang merasa terpentingkan untuk melihat tulisanku ini. Setiap bagian dari kata-kata yang tersusun dalam barisan kalimat semata-mata hanya untaian huruf-huruf yang terangkai rapi menjadi untaian ungkapan paling sederhana dari sebuah isi hati. Tak ada yang berhak untuk memprotes dari kata hati seseorang karena itu adalah hak mutlak dari seorang individu.
Dari semua tulisanku disini, aku hanya menggambarkan apa yang ada di pikiranku. Baik, jelek, klise, kolotan atau mengada-ada hanya aku dan Tuhan yang tahu kebenaran semua itu. Tak ada yang bisa mengendalikan ungkapan isi hatiku selain diriku sendiri. Perjalanan hidup yang sudah ku lewati mengajarkan aku untuk tidak selalu naif dalam mengutarakan apa yang ku rasakan dan pikirkan. Walau terkadang emosi turut serta tapi setidaknya aku tak ingin terlihat jadi orang lain. Jadi diri sendiri walau hanya dalam bentuk tulisan tetap saja menyenangkan karena tak perlu terpengaruh oleh pikiran-pikiran pihak lain yang tak mengerti apa yang terjadi padaku. Apapun bentuk tulisanku yang penting aku bisa menikmati itu semua. Jika dulu aku berharap ada yang mau membaca tulisan di blog ku ini tapi sekarang aku justru menikmati kesendirianku di tempat rahasia kecil ini. Aku merasakan kenyamanan untuk diriku sendiri tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Apapun yang kurasakan bebas aku utarakan untuk diriku sendiri. Aku menulis di media ini sama rasanya dengan aku bicara pada diriku sendiri, tak ada yang menyela dan tak ada yang mencegahku untuk berkoar-koar sesuka hati. Karena apapun isi tulisan itu semua karena ulah hati yang lapor ke otak dan mengadukannya pada jari-jariku untuk memberikan laporannya pada ruang kosong di blog ini. Sesuatu yang sangat rapi terjalin bukan?
Sinkronisasi antara hati, otak dan jari-jariku kadang suka lepas kendali dan tidak harmonis. Antara perasaan, pemikiran dan pengutaraan kadang tak terjalin suatu komunikasi yang baik sehingga terjadi perselisihan. Tapi kembali yang terpenting hati dan otakku sama-sama mengerti dengan apa yang terlontar dari pengutaraan itu. Tulisanku memang hanya aku yang tahu. Semua pemikiran ini tak terjadi dalam waktu sekejap, walaupun terkadang ada spontanitas yang menuntun jari-jariku menari lincah di atas keyboard ini. Inspirasi bisa datang kapanpun dia mau, begitu juga perasaan yang secara ajaib bisa timbul tapi secara misterius juga bisa menghilang tanpa jejak. Semua yang terjadi dalam diriku sebagian bisa ku utarakan tapi sebagian lagi aku simpan rapi dalam hati tanpa memberi tahu pada otak untuk menyuruh jari-jari ini bergerak lincah. Biarlah hanya sebagian saja dari diri ini yang berkeliaran di area ini sedangkan sebagian lagi bergerak bebas di tempat tak terjangkau oleh apapun. Pemikiranku biarlah hanya aku yang memahami, tak perlu orang lain ikut memikirkan apa yang aku rasakan karena semua itu memang bagian dari hidupku.
Kini, hari ini dan disini aku hanya ingin berbagi bahwa blog ku adalah tempatku menulis tentang sebagian dari diriku. Tak perlu mempertanyakan apa yang tak ku ungkapkan, meskipun mungkin aku terlupa untuk mengatakannya. Tak perlu kita membelah dunia untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya tapi dengan membuka mata, telinga dan pemikiran kita akan tahu bahwa dunia sepenuhnya ada di genggaman kita. Dunia yang tak sama dengan milik orang lain. Dunia yang semestinya tetap terasa indah meskipun tak seindah gemerlapnya dunia orang lain. Kini aku belajar untuk menikmati duniaku yang kecil tapi luas dalam gugusan & barisan huruf, kata dan kalimat dalam paragraf kehidupan yang ku tulis dalam blog ku. Biarlah ini menjadi duniaku seutuhnya tanpa harus mengganggu milik orang lain. Dunia yang hanya aku yang bisa merasakan keindahannya, dunia yang tak ada rasa sesak karena desakan penuntut kebenaran atas apa yang aku ungkap. Biarlah semua menjadi seperti apa adanya karena ini Blog ku dan tulisanku adalah separuh diriku....
19 Januari 2011
Mencari kualitas hidup
Apa harapan terbesarmu di tahun ini? Jika kalimat ini di pertanyakan pada kita pasti secara klise kita akan menjawabnya dengan kalimat " Ingin jadi lebih baik ". Tapi yang jadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara atau apa yang kamu lakukan untuk bisa menjadi lebih baik itu. Semua orang bisa bicara dengan gampangnya ingin menjadi lebih baik tapi tidak semua orang bisa mendefinisikan bagaimana menjadi lebih baik yang sebenarnya. Menjadi lebih baik berarti harus ada yang berubah meningkat dalam kualitas hidup kita. Kualitas yang akan menjadikan kita sebagai manusia jaminan mutu untuk orang-orang di sekitar kita, lingkungan tapi yang lebih penting bagi diri kita sendiri. Bagaimana mungkin orang lain dan lingkungan akan merasakan perubahan kita jika dalam diri kita tak merasakan apapun untuk merubah segalanya jadi lebih baik. Semua terdorong dan terawali dari niat dari dalam pribadi kita. Bagaimanapun jalan yang akan kita lewati jika niat telah terucap dan terpatri maka aral pun tak akan menjadi halangan yang berarti. Ketidakmudahan akan selalu ada mengikuti kita kemanapun dan dimanapun kita berada. Tapi bukankah hidup itu lebih terasa indah jika kita mendapatkan sesuatu yang indah setelah melalui berbagai macam hal yang tidak indah? Yang terpentinga dari itu semua adalah prinsip hidup kita yang menyerahkan segala urusan dan jalan hidup yang kita upayakan hanya kepada Yang Maha Kuasa.
Kita ingin lebih baik, tapi sudah dapatkah kita bercermin dari pribadi kita yang dahulu yang mendorong kita untuk berubah? Harus, kita harus mau bercermin dahulu pada semua yang sudah kita lewati untuk tahu apa yang akan kita perbaiki dalam hidup ini. Masa lalu adalah sebagian cermin dari pribadi kita saat ini. Kekeliruan dan kesalahan di waktu lampau jangan sampai kita lakukan lagi jika memang ingin mencapai kualitas hidup yang hakiki. Hidup berkualitas bagi setiap orang tidak akan sama menafsirkannya. Tapi jika kita bisa menyeimbangkan tata kehidupan antara kita dengan Tuhan dan antara kita dengan sesama maka dengan sendirinya hati kita akan merasakan kualitas keimanan dalam kekeluargaan di lingkungan sekitar kita. Kualitas hidup tak akan kita dapatkan dalam waktu yang sebentar karena semua pasti harus melalui filter-filter kehidupan.
Roda kehidupan selalu berputar adil walaupun tak semua orang bisa menganggapnya begitu. Kemarin kita di bawah menahan sakit tertindih roda atas yang jumawa seakan-akan selamanya dia disana tak terganti, tapi kemudian perlahan roda itu bergerak berganti hari ini. Hari dimana kita berada diantara tangga menuju atas, tertatih melepaskan diri dari himpitan kehidupan yang memuakkan. Belajar berdiri tegak dari sakitnya tertindas, berjalan menapaki tiap waktu yang berjalan untuk sampai ke atas. Tapi sudah siapkah kita untuk berada di atas? Sudah mampukah kita menghadirkan individu berkualitas dalam diri kita? Sudah bisakah kita berubah menjadi seseorang yang lebih baik seperti keinginan kita? Berkacalah pada cermin kehidupan, lihat dalam mata hati kita seperti apakah kita sebenarnya. Telah bermanfaatkah kita untuk diri sendiri, keluarga, orang-orang dan lingkungan? Kualitas tak akan pernah bermakna jika tak bisa ikut menyempurnakan dan dirasakan oleh sesama.
Langganan:
Postingan (Atom)